I. MASA KELAHIRAN DAN KANAK-KANAK
Pada tanggal 26 Oktober 1995, lahirlah seorang bayi perempuan. Bayi mungil ini lahir di salah satu rumah sakit yang terletak di Pringsewu, salah satu kabupaten di provinsi Lampung. Pukul 17.30 WIB, dia lahir dengan selamat, begitu juga ibunya yang telah mengandung selama 9 bulan 10 hari. Ketika lahir beratnya mencapai 2,7 kg dengan tinggi 39 cm. Normal seperti bayi-bayi yang lain. Meskipun selamat, saat lahir bayi mungil ini terkena penyakit kuning. Penyakit ini timbul karena darahnya mengandung bilirubin yang tinggi. Apabila tidak tertolong, bayi yang terkena penyakit kuning bisa mengalami idiot. Karena di Pringsewu belum terdapat alat-alat yang lengkap, akhirnya bayi ini dibawa ke Jakarta. Di Jakarta bayi ini dirawat di Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta untuk mendapatkan pengobatan. Dia dibawa menggunakan ambulan dari Pringsewu ke Jakarta. Setelah beberapa hari di rumah sakit, keadaanya mulai membaik. Bilirubinnya perlahan normal dan akhirnya sembuh. Setelah sembuh, ia dibawa lagi ke Pringsewu.
Bayi perempuan ini merupakan anak kedua dan terakhir dari pasangan Tatik Nuryanti dan Prihartono. Mereka memberinya nama Annisa Mutiara Kalpika. Nama ini memiliki arti di setiap kata. Annisa adalah wanita, Mutiara adalah berlian, dan Kalpika yang diambil dari bahasa Jawa yang berarti cincin. Apabila disatukan, arti dari nama Annisa Mutiara Kalpika adalah cincin mutiara wanita. Setiap nama adalah doa, jadi nama Annisa Mutiara Kalpika memiliki arti yang tersirat. Annisa Mutiara Kalpika kerap disapa Icca. Nama Icca merupakan nama panggilan yang diberikan oleh pengasuhnya saat kecil. Ia memiliki seorang kakak laki-laki yang bernama Muhammad Ivan Ramadhan yang biasa disapa Ivan atau Mas Ivan. Keduanya hanya berjarak 3 tahun. Ivan lahir di Bandung pada 1 April 1992. Mereka lahir di kota berbeda karena saat Icca lahir, orang tuanya sedang dipindahtugaskan ke Pringsewu dari Bandung pada Juni 1995. Saat di Pringsewu, mereka tinggal di Jalan Ki H. Dewantoro no. 2 Pringsewu.
Kedua orang tua Icca merupakan seorang karyawan BUMN. Mereka bekerja dalam satu perusahaan yang sama. Jadi apabila satu diantaranya dipindahkan, yang lainnya juga akan pindah. Nah, saat Icca lahir, kebetulan ayahnya dipindahtugaskan ke Pringsewu. Orang tua Icca menikah pada 30 Juni 1991 di Klaten, Jawa Tengah. Mereka memiliki 2 anak, Muhammad Ivan Ramdhan dan Annisa Mutiara Kalpika. Mereka sama-sama bersuku bangsa Jawa. Tatik Nuryanti berasal dari Klaten, Jawa Tengah sedangkan Prihartono berasal dari Magelang, Jawa Tengah. Keluarga yang beranggotakan 4 orang ini merupakan yang saling melengkapi sehingga kelebihan dan kekurangan dari masing-masing individu tidak begitu terlihat. Orang tua yang begitu sayang dan perhatian membuat buah hatinya tumbuh menjadi insan-insan yang kreatif dan cerdas.
Pada bulan Juni 1996, saat Icca berumur delapan bulan, ayahnya dipindahtugaskan lagi ke Bandar Lampung. Akhirnya mereka sekeluarga pindah ke Bandar Lampung dan bertempat tinggal di Jalan Kemuning 1 no. 34 Pahoman Bandar Lampung. Di kota ini, Icca menghabiskan masa balita dan kanak-kanaknya. Bersama teman-teman sebayanya yang ada di sekitar rumahnya, ia bermain sambil belajar. Di usianya yang ke 1 tahun, Icca sudah bisa berjalan. Icca sudai mulai bisa berbicara pada usia 2 tahun. Ia juga menghabiskan waktunya bersama pengasuh, kakak, dan orang tuanya. Di sinilah mulai terbentuk karakter diri seorang Icca.
II. MASA TK
Akhirnya pada usia Icca 3 tahun, ibunya, Tatik Nuryanti melanjutkan D3-nya di Universitas Gajah Mada di Yogyakarta. Saat ibunya sekolah, Icca dan pengasuhnya ikut ke Yogyakarta. Letak Yogya yang tidak jauh dari Klaten, kota asal Ibu Tatik Nuryanti, membuat ibunya mengajak ikut ke Yogya. Ayah dan kakaknya ditinggal di Tanjung Karang karena ayahnya harus bekerja sedangkan Ivan harus sekolah di SD Negeri 2 Teladan Rawa Laut. Saat itu, ibunya sedang mengambil cuti besar. Di Klaten ada kakek dan nenek Icca. Karena mereka bersuku bangsa Jawa, Icca biasa memanggil kakek dan neneknya dengan sebutan eyang putri dan eyang kakung. Saat ibunya kuliah, Icca dan pengasuhnya dititipkan di Klaten. Di Klaten, Icca sering diajak bude-budenya untuk jalan-jalan. Untuk mengisi waktu yang kosong, Icca disekolahkan di playgroup yang terletak di Yogyakarta. Playgroup ini dimiliki oleh Amien Rais. Di sana, dia diajak untuk bermain sambil belajar. Mainan yang sangat disukai Icca saat playgroup adalah mobil-mobilan.
Di masa TK, ia sudah dilatih untuk menari. Tarian pertama yang pernah Icca pelajari adalah Tari Dinding Makdinding yang berasal dari Aceh. Saat kegiatan KBM, Icca dan teman-temannya pergi ke masjid yang terletak di depan sekolah untuk latihan menari. Diakhir tahun ajaran, Icca dan teman-teman juga tampil di Acara Pelepasan. Teman menari Icca yang masih diingat adalah Eten karena dulu Icca sering main ke rumah Eten. Di masa TK, waktu kosong yang dimiliki Icca dimanfaatkannya untuk menonton kartun, bermain, dan TPA. Teman-teman bermainnya, antara lain: Resti, Yudi, Azis, dan Adi. Dulu mereka sering sekali bermain bola di jalan depan rumah. Terkadang, mereka bermain di rumah Adi yang memiliki halaman yang cukup luas.
III. MASA SD
Lalu, pada usia 6 tahun, ia masuk sekolah dasar. Awalnya ia ingin didaftarkan oleh orang tuanya di SD Persit Bandar Lampung, tapi umurnya belum mencukupi. Akhirnya ia masuk di SD Negeri 2 Teladan Rawa Laut. Di sana, ia masuk kelas 1.A. Di kelas 1, ia mulai belajar menulis, membaca, berhitung, dll. Selain itu, di Bandar Lampung, mulai dari kelas 1 sudah diajarkan Bahasa Lampung dengan tulisan sansekertanya. Bisa dibayangkan betapa rumitnya. Guru wali kelasnya di kelas 1 adalah Bu Sri. khirnya di akhir cawu 1, Icca mendapatkan rangking 7. Pada cawu 2 mendapatkan rangking 5. Pada cawu 3, mendapatkan rangking 2. Pada kelas 2, wali kelasnya adalah Bu Fitri. Di semester 1, Icca mendapatkan rangking 2. Pada semester 2, Icca dikabarkan bahwa keluarganya akan pindah ke Palembang. Saat itu pikirannya mulai bercabang. Nilainya mulai menurun dan akhirnya mendapatkan rangking 10. Tapi dia senang, dia tidak pernah keluar dari rangking 10 besar di kelasnya.
Kenaikan kelas 3, Icca dan keluarganya pindah ke Palembang. Di Palembang, dia bersekolah di SD Negeri 50 Palembang yang sekarang berganti nama menjadi SD Negeri 41 Palembang. Jarak rumah dan sekolah juga tidak begitu jauh, hanya 100 meter. Hanya berjalan kurang lebih 2 menit, sudah sampai di sekolah. Di Palembang, Icca tinggal di Jalan Anggrek no.17 Km 3 Palembang. Lokasi ini bisa dibilang strategis karena dekat dengan jalan utama yaitu Jalan Jendral Sudirman dimana banyak bus dan angkot segala jurusan yang lewat. Selain itu, lokasi itu dekat dengan masjid, sekolah, tempat les, vihara, gereja, rumah sakit, dll.
Di kelas 3 SD Icca merupakan salah satu siswi yang rajin dan bisa dibilang cerdas. Icca masuk di kelas 3.A yang siswa-siswanya banyak yang pintar. Sehingga di akhir semester 1, ia mendapatkan juara 3. Di kelas 3 Icca belum mengikuti perlombaan-perlombaan. Icca bisa dibilang anak yang mudah bergaul karena ia cepat akrab dengan orang. Pada semester 2, Icca masi tetap dengan posisinya juara 3. Mulai di kelas 3, Icca memiliki teman akrab yaitu Fania, Hani, Tiara, Ayu, Vania, Paschal, dan Fajar. Saat kelas 3, Icca mendapat kabar buruk bahwa kakek dari ibunya, Sadji Broto Hardjono meninggal dunia. Saat itu juga mereka langsung pulang ke Klaten.
Di kelas 4, Icca satu kelas lagi dengan teman-teman akrabnya. Saat itu wali kelasnya adalah Bu . Nah, di kelas 4 Icca mulai mengikuti lomba-lomba seperti lomba paduan suara. Saat itu Icca sering menjadi dirigen yang memimpin paduan suara. Prestasi selain itu juga dia bersama teman-temannya pernah mendapat juara 3 saat Lomba Solat Berjamaah se-Kota Palembang di MAN 3 Palembang. Diakhir semester 1 dan 2, lagi-lagi Icca mendapatkan juara 3.
Kelas 5 merupakn kelas yang paling mengasikkan menurut Icca karena di kelas 5-lah mulai tumbuh rasa persaingan, terutama dalam nilai. Muncul persaingan yang sehat sehingga setiap siswa berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Wali kelasnya saat kelas 5 adalah Ibu Yati yang merupakan guru Matematika. Meskipun sedikit galak, tetapi siswa suka apabila dia yang mengajar. Dia selalu memberi motivasi kepada anak didiknya untuk terus belajar. Meskipun sekolah kami tidak banyak dikenal orang, namun prestasi ynag didapat juga tidak sedikit. Di kelas 5, Icca banyak mengikuti perlombaan tapi tidak pernah ada yang menang. Pada akhir semester 1, Icca mendapatkan rangking 4, turun satu tingkat dari sebelum-sebelumnya. Rangking 4 dipegang oleh Paschal. Saat itu Icca kecewa sekali karena selisih jumlah nilainya hanya 0,5. Akhirnya di semester 2, Icca berusaha memperbaiki nilai. Sampai akhirnya di semester 2, rangking 3 dipegang lagi oleh Icca.
Pada semster 2, semua siswa semakin rajin karena mereka akan menempuh UAS. Guru-guru pun semakin rajin memberikan latihan soal sebagai persiapan UAS. Semua mengejar nilai bagus. Menurut Icca, saingan terberat saat kelas 6 adalah Nurul Fadillah. Dia merupakan anak yang rajin ulet, namun terkadang dia sedikit ceroboh.
IV. MASA SMP
Tibalah saatnya untuk daftar ke SMP yang dituju. Pada awalnya, Icca bingung akan mendaftar ke SMP yang mana. Pilihannya ada SMP Negeri 1 Palembang, SMP Negeri 9 Palembang, dan SMP Negeri 3 Palembang. Di SMP Negeri 1 dan 9, yang dicari oleh Icca adalah kelas RSBI-nya. Kalau di SMP Negeri 3 Palembang, yang dicari adalah kelas akselerasinya. Teman-teman Icca banyak yang memilih SMP Negeri 3 karena SMP ini merupakan rayon dari SD mereka sehingga tidak sulit untuk masuk ke SMP itu. Akhirnya Icca memilih SMP Negeri 1 Palembang. Saat pendaftaran, Icca begitu salut dengan siswa yang mendaftar di sana karena nilai mereka tinggi-tinggi. Semangat yang tadinya berkobar, mulai melemah. Tapi bagaiman pun kondisinya, Icca harus tetap semangat. Akhirnya Icca pun diterima di SMP Negeri 1 Palembang dengan rangking 1. Icca sangat senang mendengarnya, begitu pula keluarganya. Terlebih lagi karena Ivan, kakak Icca diterima di SMA Negeri 3 Palembang.
Masa SMP diawali dengan MOS yang tidak terlalu ribet. Tidak ada perintah yang aneh-aneh sehingga para siswa baru sangat santai mengikuti MOS. Saat MOS, Icca memiliki teman akrab yang berada dalam satu kelompok MOS, namanya Anindita Rahmalia Putri. Dia berasal dari SD IBA Palembang. Dia terkenal karena sering menjuarai banyak Try Out se-Kota Palembang. Setelah MOS, masa SMP di lanjutkan dengan tes untuk menjaring siswa-siswi yang akan duduk di kelas RSBI. Adapun tes-tes yang ada saat penjaringan adalah tes Bahasa Inggris, MIPA dalam Bahasa Inggris, Tes IQ, dan Tes Wawancara. Tes itu diikuti oleh siswa-siswi SMP Negeri 1 Palembang kelas VII yang memiliki nilai rata-rata rapot diatas 75 untuk pelajaran MIPA dan Bahasa Inggris. Salah satu peserta tes adalah Annisa Mutiara Kalpika yang mendapat ruang tes di ruang 1. Setelah melalui proses penjaringan yang cukup panjang, didapatkanlah 24 orang untuk mengisi kelas RSBI. Mereka adalah:
1. Agus Domas Indrawijaya
2. Amalia A.H.
3. Annisa Mutiara Kalpika
4. Balqis Wulandari
5. Bella Septika Medianti
6. Destian Tony
7. Dony Prasetya
8. Fania Hanny Sevita
9. Hani Hazarani
10. Hedy Diana
11. Inas Joesi Burnia
12. M. Abduh Harist Mughni
13. M. Dharin Detama Patra
14. M. Ferdy Juliantama
15. M. Imam Abyan
16. Maulana Muzakki
17. Mitha Claudia E.
18. Monica Anggiani Putri
19. Rainy Syafitri Indahsari
20.Rizkia retno Dwiningrum
21. Sarayati Khairunisa
22. Syifa Luthfia
23. Terihamka Ibrahim
24. Yusufa Fil Ardy
Mulai akhir Juli 2007, mereka resmi berada di satu kelas yaitu VII.1. Kelas yang hanya berisi 24 orang sepertinya baru kali ini Icca temui, bahkan teman-temannya juga. Rasanya seperti kursus di luar sekolah karena dikit sekalu jumlah siswanya. Kelas VII.1 wali kelasnya adalah Ibu Isri Yeni. Beliau mengajar pelajaran Fisika. Saat itu, Icca duduk sebangku bersama Monica yang biasa dipanggil Ceche karena wajahnya yang mirip cina. Satu tahun mereka jalani di kelas VII.1 dengan ketua kelas Destian Tony. Sedangkan Icca merupakan bendahara 2 yang mengurus uang kas. Pada awal proses KBM, semua masih belum akrab, sehingga untuk ngobrol rasanya masih canggung. Namun laut lamban, karakteristik mereka mulai diketahui. Mereka saling tahu karakter masing-masing temnnya. Termasuk teman mereka yang sedikit berbeda dari yang lain, namanya Inas Joesi Burnia yang biasa dipanggil Inas. Inas sedikit berbeda dgn yang lain karena dia agak susah untuk diajak bersosialisasi. Saat kerja kelompok, Inas tidak pernah bekerja. Jadi anggota kelompok yang sekelompok dengan dia merasa dirugikan. Karena hal itu banyak diantaranya yang menjauhi Inas, bahkan mengejeknya sampai-sampai Inas menangis.
Di SMP, Icca lagi-lagi mengikuti ekstrakulikuler Pramuka karena ia ingin melanjutkan kepramukaanya di SD. Persaingan belum terlalu ketat. Banyak diantara mereka yang masih terbuai oleh masuknya mereka di kelas RSBI. Sampai akhirnya di akhir semester 1, Icca mendapatkan rangking 1 kelas dan rangking 1 Umum. Di semester 2, persaingan mulai ketat. Mereka mulai meningkatkan kualitas diri masing-masing. Kelas 1 SMP merupakan awal batu loncatan Icca untuk meraih prestasi-prestasi. Ekstrakulikuler yang Icca ikuti membuahkan hasil, ia banyak mendapatkan piagam-piagam dan sertifikat dari hasil lomba-lomba. Masa ini merupakan masa yang paling indah menurut Icca saat itu. Saat kelas VII, Icca memiliki teman-teman dekat yang tergabung dalam Adam HTF, yaitu Aby, Dony, Annisa, Monica, Haris, Teri, dan Ferdy. Mereka dekat karena tempat duduk mereka berada dalam 1 kelompok. Pada waktu itu, formasi tempat duduk mereka membentuk kelompok belajar untuk membuat KBM lebih efisien saat berdiskusi. Di semester 2 juga, seluruh kelas VII masuk sekolah dapa siang hari. Hal ini dilakukan SMP Negeri 1 Palembang karena sekolah itu sedang mengadakan renovasi sekolah. Di akhir semester 2, Icca mendapatkan rangking 2. Rangking 1 di raih oleh Balqis Wulandari. Moment yang tidak bisa mereka lupakan di kelas VII.1 adalah saat lomba Tujuh Belasan, kelas VII.1 mendapatkan banyak hadiah dari perlombaan yang diadakan seperti, lomba kebersihan kelas, paduan suara, protokol, dll. Meskipun muridnya sedikit, mereka mampu memenangkan banyak perlombaan.
Naiklah mereka ke kelas VIII. Tidak ada pengacakan kelas. Terlebih karena kelas mereka RSBI, jadi tidak ada pengacakan. Semua siswa yang dulunya VII.1 sekarang berubah nama menjadi VIII.1. Kelas VIII.1 memiliki wali kelas yang bernama Marlita Yuana, S.Pd. Ibu Lita merupakan guru pelajaran Bahasa Indonesia. Selain menjadi guru, beliau juga merupakan pembina Ekstrakuliler Pramuka di SMP Negeri 1 Palembang. Tapi sayang, saat di kelas VIII, salah satu siswa VIII.1 pindah ke Jakarta yaitu Yusufa Fil-Ardy. Akhirnya penghuni VIII.1 tinggal 23 orang.
Di kelas VIII, menurut Icca merupakan masa yang benar-benar ia sukai. Kalau ada masa sekolah terindah, mungkin ia akan menjawab ”kelas VIII SMP”. Masa kelas VIII banyak kejadian yang sulit dilupakan. Tidak hanya dalam sekolah, namun di luar sekolah juga. Di kelas VIII semakin banyak lomba yang ia ikuti dan beberapa membuahkan hasil. Seperti contoh Lomba Senam SKJ 2004, Lomba LTBB, Olympiade MTK Tingkat Kota Palembang, dll. Selain itu, di kelas VIII juga, Icca dan 19 orang lainnya mendapat kesempatan untuk mengikuti Asean Scout Jamboree yang diadakan di Bumi Perkemahan Cibubur sebagai perwakilan dari Sumatera Selatan. Mereka mengatikan kakak kelas mereka yang telah lulus dari SMP, karena sebenarnya ASJ merupakan hadiah yang diberikan kepada SMP Negeri 1 Palembang karena telah mengikuti LT-5. Peserta yang hadir adalah anggota pramuka dari seluruh negara di Asia Tenggara. Namun ada diantaranya yang tidak hadir seperti Taiwan, Myanmar. Di sana, Icca bertemu dengan anggota Pramuka dari seluruh Indonesia dan negara-negara lain. Seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, China, Vietnam, dll. Peserta yang masih teringat dalam benak Icca adalah Ziman dari Brunei Darussalam, anak-anak Banyumas, Papua, dan Jakarta.
Saat momen ASJ, Sumatera Selatan menampilkan tarian tradisional. Icca dan teman-teman menampilkan Tari Bedana Ya Saman. Ini merupakan kali pertama Icca menari dihadapan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Betapa gugupnya saat itu. Namun semua dilalui dengan mulus, penampilan berakhir dengan tepuk tangan yang meriah dari penonton. Asean Scout Jamboree itu berakhir pada 26 Oktober 2008. Tepat di umur Icca yang ke-13 tahun. Rasanya seperti mimpi bisa mengikuti ASJ itu.
Di kelas VIII, Icca mengikuti Lomba Siswa Berprestasi se-Kota Palembang bersama 6 orang temanya yaitu Balqis, Anton, Dony, Bulan, Anindita, Teri. Persiapan telah dimulai jauh sebelum hari H. Namun, saat pengumuman hasil lomba seleksi pertama, Icca mendapatkan peringkat ke-12 putri. Nilai peringkat 11 dan 12 sama, tapi tetap saja Icca tidak lolos di tahap berikutnya. Peringkat ke-11 putri diraih oleh teman Icca juga yaitu Bulan. Balqis mendapat peringkat 8, sedangkan Annindita mendapat peringkat 6. Sebenarnya jaraknya tidak jauh. Kecewa, pasti dirasakan Icca. Sepanjang perjalanan pulang, air matanya terus mengalir. Tapi inilah kehendak Tuhan, mau tidak mau harus diterima.
Seperti yang Icca katakan, masa SMP kelas VIII merupakan masa yang terindah. Di kelas VIII itu rasanya santai sekali menurutnya. Ia bebas bepergian kemana saja. Ketika pulang sekolah, dia sering pergi ke bioskop bersama teman-temannya untuk menonton film. Biasanya Icca pergi bersama Monica, Bella, Hedy, dan Kiki. Tapi walaupun mereka sering pergi, mereka tidak meninggalkan les. Setelah pulang dari bioskop, mereka langsung pergi ke tempat les bersama-sama karena mereka les MIPA di tempat yang sama yaitu St. Ignatius Education Center. Hampir 60% siswa VIII.1 les di sana. Terkadang, kelas VIII.1 juga sering nonton ke bioskop bersama-sama, biasanya karena ada siswa VIII.1 yang berulang tahun. Beruntung sekali bisa ada di keluarga VIII.1, suasana kekeluargaannya sangat terasa. Sepertinya VIII.1 merupakan keluarga kedua bagi mereka. Terkadang mereka enggan untuk pulang karena mereka masih bermain di kelas. Terlebih siswa yang cowok, saat pulang sekolah mereka masih di sekolah untuk bermain game bersama. Pada akhir semester 1 kelas VIII, Icca mendapat peringkat 3. Sedangkan di akhir semester 2, Icca mendapat peringkat 3 lagi.
Sebelum pembagian rapot semester 2, Icca mengikuti Kegiatan Kemah Budaya sebagai lanjutan dari Sean Scout Jamboree. Namun Kemah Budaya ini hanya di ikuti anggota Pramuka yang berasal dari Indonesia saja. Kemah Budaya diselenggarakan di Pacitan, Jawa Timur daerah asal dari Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Icca dan 7 orang lainnya diberi kesempatan mewakili Sumatera Selatan. Wakil dari SMP Negeri 1 Palembang adalah Icca dan temannya, Rizky Renaldy. Wakil dari Sumatera Selatan yang lainnya berasal dari sekolah yang berbeda. Jadi saat bertemu, mereka belum saling kenal. Persiapan dilakukan 2 minngu sebelum hari H. Mereka di latih menari, mendirikan tenda, dll. Pembina putrinya adalah guru Icca sendiri, Ibu Marlita Yuana. Tiga hari sebelum hari H, merek pun pergi ke Pacitan menggunakan bis. Dua hari dua malam mereka habiskan di perjalanan. Sesampainya di lokasi, mereka kaget karena ternyata lokasinya itu di pinggir pantai. Rasa senang dan kecewa menyelimuti mereka. Senang karena lokasi di pinggir pantai yang indah, sedikit kecewa karena mereka akan mendirikan tenda di atas pasir, bukan tanah. Sayangnya mereka tidak membawa bambu, jadi sedikit sulit untuk mendirikan tenda. Untung saja ada warga yang menjual bambu. Akhirnya tenda pun berdiri tegak. Di Kemah Budaya kegiatan yang ada lebih menonjol ke budaya dan pertukaran budaya. Selain itu, peserta di ajak ke rumah dari Presiden SBY di Pacitan, ke Goa Gong, dll. Rasanya itu seperti liburan. Di Akhir Kemah Budaya, diadakan karnaval pakaian adat. Seluruh peserta bekeliling dengan berjalan kaki sepanjang 5 km dengan menggunakan pakaian adat masing-masing. Perwakilan Sumatera Selatan untuk menggunakan pakaian adat adalah Icca dan Rizky. Acara itu sekaligus menutup Kegiatan Kemah Budaya. Setelah itu, para peserta pun pulang. Sebelum pulang ke Palembang, Icca dan teman-teman menginap semalam di Yogyakarta. Mereka menyewa mobil dan pergi jalan-jalan. Mereka pergi ke Malioboro, ke Alun-alun Yogya, dan ke Candi Borobudur. Setelah itu baru mereka pulang ke Palembang.
Akhirnya mereka pun naik ke kelas IX dan memasuki tahun ajaran baru. Lagi-lagi kelas VIII.1 hanya berubah nama menjadi kelas IX.1. Namun, satu anggota pindah ke Bandung, yaitu absen ke 13 M. Dharin Detama Patra. Dia pindah ke Bandung karena dia bercita-cita untuk masuk ke SMA Negeri 3 Bandung. Icca dan teman-temannya merasa sangat kehilangan karena Dharin begitu dekat dengan mereka. Mereka sering bermain gitar bersama dan menyanyi bersama. Orangnya yang jahil dan sedikit aneh membuat kami sulit melepasnya. Lambat laun kami mulai terbiasa dengan ketidakhadiran seorang Dharin. Tapi walaupun satu orang pindah, IX.1 mendapat anggota baru yaitu Meutia Astrini Pratiwi. Dia siswi pindahan dari SMP Negeri 1 Malang. Jadi total siswa masih tetap 23 orang.
Di kelas IX, siswa-siswa berubah drastis. Dari anak yang sedikit santai menjadi anak yang rajin. Perubahan mereka dapat dirasakan saat proses KBM. Sudah jarang siswa-siswi yang bolos pelajaran ke kantin, ke perpustakaan, dll. Mereka mulai rajin masuk kelas untuk mendapatkan materi daripada bermain. Padahal saat kelas VIII, mereka terkadang bolos pelajaran. Selain itu, banyak siswa-siswi yang mulai mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Mereka melakukan hal itu untuk persiapan UN dan Tes Masuk SMA. Persaingan pun semakin ketat, diantara mereka ingin mencapai nilai maksimal untuk mendapatkan PMPA yaitu masuk SMA yang mereka inginkan tanpa melalui tes. Biasanya SMA yang menawarkan PMPA ke SMP Negeri 1 Palembang adalah SMA Negeri 1 Palembang. Sebenarnya materi kelas IX tidak begitu sulit karena hanya pendalaman materi dari kelas VII dan disisipkan materi tambahan. Menurut Icca, pelajaran SMP yang dikatakannya sulit adalah pelajaran biologi, IPS, dan kewarganegaraan. Sedangkan pelajaran yang mudah dipahami saat itu adalah matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.
Di kelas IX, Icca masih sering mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan seperti; Lomba Cerdas Cermas UN dan Lomba Cerdas Cermat Matematika. Pada LCC UN, SMP Negeri 1 Palembang mengirimkan 3 regu. Namun hanya 1 yang lolos ke babak final yaitu regu Icca, Balqis, dan Resi. Saat babak final, mereka mendapatkan juara ke-3 se-SumSel. Sedangkan pada saat LCC Matematika, SMP Negeri 1 Palembang mengirimkan 3 regu untuk bertanding, namun yang lolos ke babak final 2 regu. Lomba ini diikuti sekolah-sekolah se-Kota Palembang. SMP Negeri 1 Palembang berhasil meraih juara 1 dan juara 3. Mereka mendapat piala tetap dan piala bergilir.
Sedangkan di non akademik, Icca dan 29 orang temannya mengikuti Jambore Ranting se-Kecamatan Bukit Kecil. Ketika itu Icca di angkat menjadi pimpinan regu (pinru) dari regu Anggrek. Dari hasil latihan berbulan-bulan itu, mereka mendapatkan Juara Umum Putra dan Putri. Selanjutnya mereka akan dikirim mewakili Kecamatan Bukut Kecil untuk mengikuti Jambore Cabang pada Juni 2010. Namun karena peserta Jambore Ranting yang kelas 9 akan melanjutkan ke SMA, maka angkatan Icca yang mengikuti Jamran itu diganti oleh adik kelas. Mungkin itulah lomba terakhir yang diikuti Icca untuk membawa nama SMP Negeri 1 Palembang.
Sayang sekali, pada awal februari, ayah dari Icca harus pindah ke Bandar Lampung. Dia dipindahtugaskan ke sana. Rencananya saat kelulusan, Icca, Ivan, dan ibunya akan menyusul ke Bandar lampung. Mendengar akan pindah Icca merasa kecewa karena ia ingin bersekolah di SMA di Palembang. Ia ingin masuk SMA Plus Negeri 17 Palembang. Ia ingin merasakan bagaimana kehidupan di asrama. Namun ia belum begitu memikirkannya karena menurutnya kelulusan itu masih lama.
Pada akhir Februari 2010, pendaftaran SMA-SMA favorit mulai dibuka, yaitu: SMA Plus Negeri 17 Palembang, SMA Negeri 5 Palembang, SMA Negeri 6 Palembang, dan SMA Kusuma Bangsa Palembang. Dari sekian SMA yang membuka pendaftaran, Icca mendaftar di SMA Negeri 6 dan SMA Plus Negeri 17 Palembang. Namun, karena hari pelaksanaan tes tertulisnya bersamaan, Icca lebih memilih SMA Plus Negeri 17 Palembang yang sering disebut SMANJUBEL. Berbagai persiapan telah Icca lakukan untuk tes tertulis masuk SMA. Icca dan temna-temannya rela mengikuti bimbingan belajar di malam hari untuk membahas soal-soal tes masuk SMA, khususnya soal tes SMA Plus Negeri 71 karena sebagian besar di antara kami ingin mengikuti tes SMA Plus Negeri 17.
Saat hari pengumuman tes SMA Plus Negeri 17, SMP Negeri 1 Palembang menjadi booming. Perkataan, ”Au masuk tidak ya?” seolah menjadi perkataan yang biasa diucapkan siswa-siswi yang mengikuti tes masuk SMA Plus Negeri 17 Palembang. Begitu juga Icca, setiap bertemu temannya, ia selalu berkata, ”Aduh, aku lolos apa nggak ya?? Doain ya!”. Semua peserta tes merasa gugup. Bahkan sebagian siswa tidak bisa tidur karena menunggu pengumuman hasil tes. Hal itu pula yang dilakukan Icca, setiap 2 jam sekali, ia menghubungkan internetnya dan membuka website SMA Negeri 17 Palembang. Namun hasilnya nihil. Akhirnya pengumuman keluar saat jam istirahat. Siswa berbondong-bondong ke ruang komputer untuk membuka wabsite SMA Negeri 17. Hasilnya, ada. Pengumuman sudah terpampang di monitor komputer. Satu persatu mencari nomor peserta mereka, Icca juga. Saat giliran Icca, ia mendapatkan dirinya terdaftar dalam siswa yang LOLOS tes tahap 1 dengan peringkat 31. Ia langsung berdiri dan berlari menuju kelas. Betapa bahagianya dia. Dia langsung memeluk sahabatnya, Monica. Monica juga lolos tahap 1. Seluruh teman kelasnya yang mengikuti tes di SMA Plus Negeri 17 lolos ke tahap 2. Kami sangat senang. Semua sisiwa yang lolos ke tahap 2 berlari kegirangan. Namun ada beberapa orang yang tidak lolos. Mereka terlihat sedih, bahkan ada diantaranya yang menangis. Namun inilah hidup.
Ditahap ke-2, mereka mengikuti tes wawancara, IQ, dan kemampuan berbahasa Inggris yang terdiri dati tes tertulis dan speaking. Di tes itu, Icca lolos dengan peringkat 13. Setelah itu diadakan pendaftaran ulang. Saat pendaftaran ulang, Icca sedikit bimbang karena ibunya akan pindah ke Bandar Lampung. Apabila ibunya pindah, secara otomatis Icca juga pasti akan pindah. Tapi Icca tetap mendaftarulangkan dirinya di SMA Plus Negeri 17 Palembang. Ia pun memesan seragam SMA 17 yang sedikit berbeda dengan seragam SMA yang lain. Icca sering membayangkan bagaimana ia menggunakan seragam SMA Plus Negeri 17 yang ia inginkan.
Waktu berlalu, akhirnya UN pun didepan mata. Tiba saatnya untuk Icca dan angkatannya mengikuti UN yang berlangsung selama 3 hari. Berbagai kecurangan terjadi. Namun apadaya pemerintah belum bisa mencegah dan mengatasinya. Selanjutnya siswa mengikuti US. Setelah itu kami diliburkan sangat lama. Namun hari libur itu digunakan Icca untuk mengemas barang-barang dan belajar untuk mengikuti tes SMA Negeri 2 Bandar Lampung.
Icca pun mengikuti tes di Bandar Lampung. Saat tes, Icca sedikit pesimis karena tesnya menggunakan sistem minus. Esoknya ia mengikuti tes B.Inggris, tesnya sejenis tes wawancara tetapi lebih ke speaking. Akhirnya tes pun selesai, Icca pun kembali ke Palembang diantar ayahnya.
Akhirnya pengumuman kelulusan. Icca lulus dengan nilai 37,6. Icca sangat senang, karena ia bisa lulus dengan nilai yang baik. Namun saat itu, Icca juga hrus kehilangan seorang pakde. Jadi saat ia menerima surat kelulusan dan rapot akhir, ibunya sedang berada di Demak untuk menyaksikan prosesi pemakaman. Icca dan ayahnya tidak ikut ke Demak karena saat diberitahu bahwa pakdeny meninggal dunia, mereka sedang di perjalanan menuju Palembang.
Tiba pengumuman tes SMA Negeri 2 Bandar Lampung, Icca tidak melihat pengumumannya, ia diberitahu ayahnya bahwa Icca masuk SMA Negeri 2 Bandar Lampung dengan peringkat 55. Mendengar itu, Icca diam sesaat. Ia diantara pintu kebahagiaan dan pintu kesedihan. Senang karena diterima dan sedih karena mau tidak mau ia harus ikut pindah ke Bandar Lampung. Akhirnya ayahnya menyuruh dia sekolah di SMA Negeri 2 Bandar Lampung dan meninggalkan SMA di Palembang. Padahal Icca ingin sekali sekolah di sana.
Diakhir tahun pelajaran, diadakan acara perpisahan. Acara ini diadakan di Hotel Swarna Dwipa. Siswa diharapkan menggunakan kebaya bagi yang perempuan dan pakaian formal bagi yang laki-laki. Acara berlangsung sukses. Di akhir acara, Icca dan teman-teman berkumpul bersama. Saat itu yang lain sudah mulai pulang sehingga aula pun perlahan sepi. Di situ mereka mulai meneteskan air mata, mengingat kenangan yang telah merekaukir selama 3 tahun di SMP Negeri 1 Palembang. Mereka saling bermaaf-maafan. Icca merasa sangat sedih karena ia akan sulit bertemu temna-temannya. Ia positif pindah ke Bandar Lampung.
V. MASA SMA - SEKARANG
Akhirnya Icca pun pindah ke Bandar Lampung dan terdaftar di SMA Negeri 2 Bandar Lampung. Katanya, SMA Negeri 2 Bandar Lampung merupakan salah satu sekolah favorit di Bandar Lampung. Sekolah ini terkenal dengan siswa-siswanya yang tidak hanya terpelajar, tapi juga biasanya merupakan masyarakat kalangan menengah ke atas karena bayaran di SMAN 2 ini cukup mahal. Meski begitu, banyak siswa yang berlomba-lomba masuk ke sekolah tersebut, bahkan sampai datang dari luar kota termasuk Icca.
Masa SMA diawali dengan Masa Orientasi Siswa (MOS). Siswa-sisiwi di bagi menjadi 9 kelompok yaitu Anthurium, Bougenville, Camomile, Dandelion, Edelwise, Fox Glove, Geranium, Howtorn, dan Irish. Saat Pra-MOS dan MOS, Icca masuk ke dalam Kelompok Bougenville dengan PJ: Kak Abeng, Kak Mila, Kak Awan, dan Kak Gepe. MOS SMA lebih berkesan daripada MOS SMA karena saat MOS SMA, Icca memiliki peran sebagai ketua kelompok. Selain itu acara demi acara saat MOS SMA lebih kompleks. Saat itu, Icca merupakan siswa pindahan dari luar kota sehingga dia masih merasa asing dengan lingkungan sekitarnya. Hanya dua orang siswa angkatannya yang baru ia kenal yaitu Tashia dan Nanda. Mereka merupakan anak dari teman ayah Icca. Namun, Tashia berada di kelompok lain yaitu Anthurium sedangkan Nanda berada pada kelompok yang sama seperti Icca.
Pra-MOS berlangsung selama tiga hari. Hari pertama merupakan hari perkenalan yang diawali dengan upacara pembukaan. Di hari pertama itu, mereka menggunakan pakaian seragam SMP putih-biru. Sehingga dari bed sekolah terlihat perbedaan sekolah. Setelah upacara siswa yang termasuk ke dalam kelompok Bougenville digiring oleh PJ mereka menuju ke kelas. Kelompok bougenville mendapat kelas yang berada di lantai dua. Kelas Bougenville berada di antara kelas Kelompok Anthurium dan Camomile. Di kelas, mereka saling berkenalan. Lalu diadakanlah pemilihan ketua kelompok. Dari 31 siswa yang berada di kelas itu, ada tiga kandidat ketua yaitu Adelpho, Icca, dan Angga. Namun, hanya Icca yang menyalonkan diri sedangkan yang lain ditunjuk oleh PJ. Lalu ketiga orang tersebut di ts untuk meyebutkan visi dan misi mereka. Visi Icca adalah ”Menjadi yang terbaik di antara yang terbaik” sedangkan misinya adalah ”Do the best all the time”. Selanjutnya kami di tes untuk unjuk bakat. Di tes ini Icca membacakan sebuah puisi yang berjudul Karawang Bekasi dari Chairil Anwar. Puisi inilah yang mampu membawa Icca menjadi ketua Bougenville karena banyak yang memilih Icca. Enam hari ia jalani sebagai ketua Bougenville atau kerap di sebut Bougil yang berarti Bougenville gokil. Bougil memiliki slogan yaitu ”Dari pada gigit pensil, mending liat Bougil.” Selama Pra-MOS mereka menggunakan pakaian olahraga SMAN 2. Materi yang didapatkannya kebanyakan kedisiplinan dan PBB.
Saat Pra-MOS mereka menggunakan pakaian hitam putih. Atasannya menggunkan seragam SMP sedangkan bawahannya menggunakan celana bahan yang berwarna hitam. Selain itu mereka menggunakan topi kerucut dan name tag berwarna kuning. Mereka juga menggunakan tas yang terbuat dari karung. Selama MOS, peserta MOS kebanyakan duduk di bawah tenda atau tarub. Di sana mereka mendapatkan materi mengenai SMA Negeri 2 Bandar Lampung. Hal yang paling Icca tidak suka adalah saat disuruh mengumpulkan tanda tangan pengurus OSIS dan PK karena kebanyakan dari mereka yang sulit dimintai tanda tangan.
Pada hari kelima MOS, peserta MOS diperintahkan untuk membuat sebuah surat cinta yang ditujukan kepada pengurus OSIS atau pun PK. Mendengar itu, Icca dan teman-temannya bingung mau memberikan surat kepada siapa. Akhirnya Icca membuat surat yang ditujukan ke salah satu pengurus OSIS yaitu Kak Rizky. Karena Icca tidak pernah membuat surat cinta, Icca bingung apa yang mau ia tulis. Akhirnya, surat yang Icca buat hanya terdiri dari 2 kalimat. Betapa pendeknya surat yang dibuat. Tapi Icca masih acuh tak acuh. Ia baru merasa lain dari teman-temannya karena ternyata teman-temannya membuat surat cinta yang lebih panjang dari dia. Walaupun begitu, Icca masih tetap pada 2 kalimat di surat cintanya.
Pada hari terakhir MOS, para peserta MOS di ajak untuk berjalan kaki ria menuju ke Lembah Hijau yang berjarak kurang lebih 8 km dari SMA Negeri 2. Sepanjang perjalanan tim Bougil bernyanyi riang menyanyikan yel-yel mereka dan Mars SMA Negeri 2 Bandar Lampung. Bisa dibayangkan betapa lelahnya mereka saat itu. Meskipun lelah, tim Bougenville senang karena PJ mereka, Kak Gepe dan Kak Awan menemani perjalanan mereka. Sesampainya di sana, mereka melakukan kegiatan lomba yel-yel, tarik tambang, dll. Inilah puncak kegiatan MOS SMA Negeri 2 Bandar Lampung yang menyenangkan. Jalan 8 km kalau tidak hitam bukan jalan namanya, jadi setelah MOS itu mendadak siswa-siswi SMAN 2 menjadi hitam, ditambah lagi karena sebelumnya mereka mendapatkan materi PBB. Namun Icca senang mengikuti MOS karena Icca dapat menambah teman-teman dan kenalan baru.Setelah MOS, siswa-siswi diliburkan selama 3 hari. Di kesempatan itu Icca berusaha memilihkan kembali kulit coklatnya, tapi tetap tidak bisa. Pada tanggal 12, seluruh siswa-siswi masuk sekolah, baik yang kelas 1 sampai kelas 3. Pada hari itu diadakan pembagian kelas. Alhamdulilah Icca mendapat kelas X.2 yang berwali kelas Ibu Natalie. Icca tidak perlu lagi menyesuaikan diri dengan lingkungan baru lagi karena lagi-lagi siswa X.2 berasal dari tim Bougenville. Di hari itu pula dilakukan pembentukan pengurus kelas. Setelah voting, didapatlah pengurus kelas X.2 yaitu: Ketua: Ian, Waka: Zaky, Sekretaris: Ara dan Fadilla, serta Bendahara: Titin dan Dewi. Icca tidak mencalonkan diri sebagai pengurus kelas karena ia tidak ingin menjadi pengurus kelas. Pada hari pertama juga diumumkan bahwa seluruh siswa kelas X akan masuk sekolah pada siang hari dikarenakan kelas yang seharusnya menjadi ruang kelas X belum selesai dibangun.
Akhirnya keesokan harinya, Icca dan teman-temannya masuk sekolah setelah selesai shalat Zuhur. Hal ini berlanjut sampai 3 bulan kedepan karena pembangunan masih belom selesai disebabkan pada saat itu sedang berlangsung musim hujan.
SMA Negeri 2 terpilih sebagai tuan rumah untuk mengadakan upacara bendera Hari Kemerdekaan. Oleh karena itu, siswa kelas X dipilih untuk megikuti Tonpara atau Pleton Pengibar Bendera. Sekitar 100 orang mengikuti ini. Mereka latihan dengan rutin untuk persiapan di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus. Suka dan duka mereka jalani di sini. Sering dispen, kulit menghitam, dll. Tapi kekeluargaan terjalin di sini.
Di SMA ini, Icca ingin melanjutkan keorganisasiannya di OSIS. Akhirnya Icca mendaftar sebagai calon pengurus OSIS SMA Negeri 2 Bandar Lampung. Untuk menjadi pengurus OSIS, Icca mengikuti tes-tes bertahap. Pada tes pertama, Icca lolos ke tahap berikutnya. Tes pertama tersebut merupakan tes tertulis dan wawancara. Di tes tersebut ditanyakan pengetahuan mengenai organisasi. Sedangkan di wawancara, Icca mengobrol dengan senior. Dia ditanyakan apa harapan buat SMA Negeri 2 ke depannya. Di tes kedua, siswa yang lolos mengikuti tes debat. Di tes ini siswa yang lolos dibagi menjadi 4 kelompok yang nantinya mereka diberi topik lalu diperdebatkan. Dua kelompok berdebat dan sisanya mengikuti tes wawancara. Dari tes kedua, Icca lolos ke tes tahap tiga yaitu tes wawancara dengan guru. Setelah tes ini, akhirnya Icca terpilih menjadi pengurus OSIS dengan jabatan Wakil Bendahara. Pada tanggal 17 Agustus 2010, pengurus OSIS pun dilantik. Pengurus OSIS dilantik setelah Upacara 17 Agustus. Seluruh siswa menyaksikan pelantikan itu. Rasa bangga pun menyelimuti mereka para pengurus OSIS yang dipimpin oleh Gilang Persada Sebayang. Namun, mereka sadar bahwa tugas yang mereka pegang juga berat.Di SMA ia mulai menemukan kehidupannya yang baru. Di tempat yang baru dan dengan temna-temna yang baru. Saat awal ia memang sulit membagi waktu antara les, belajar, ekskul, dan OSIS. Namun ia mulai bia membagi waktu. Masih banyak saat-saat getir yang pasti akan menjumpai Icca, namun Icca tetap berharap ia dapat melakukan yang terbaik ke i dan mampu menyumbangkan piala bagi sekolahnya di masa yang akan datang.
-TO BE CONTINUE IN MY STORIES-


Tidak ada komentar:
Posting Komentar