Masa SMP gw indah
betul kayaknya, seindah mata peri yang abis turun dari langit ke tujuh, seindah
pelangi yang muncul habis hujan, seindah pantan di pesisir, seindah………*keabisan
sepikan* -__-
Mungkin pas SMP dulu
gw gak gaul, gak cantik, gak terbuka banget sama orang, tapi gw dikenal banyak
guru kok :’) apalagi walikelas gw, apalagi Bu Marlita yang tau seluk beluk diri
gw #ea
Apalagi Bu Esana yang pernah ngusir gw dari kelas cuman gara-gara piket! Nge-SUCK
betchyuulz
Cerita ini tentang sebuah mengenai kisah persahabatan. Dibungkus secara
rapi dengan kertas koran dan di ikat dengan kerat gelang bewarna merah (??)
pecel kali -____-
Pemerannya kelompok gw yang beranggotakan:
- Agus
Domas I. à
sebagai guru, mamang becak, dll.
- Annisa
Mutiara Kalpika à
sebagai Siti
- Dony
Prasetya à
sebagai Roy
- M. Ferdi
Jualntama à
sebagai Mahmud
- Monica Anggiani Putri à sebagai Mama
Yayayayaya, ngocebau nya kelamaan, intinya gw cuman mau ngepost hasil
mahakarya seorang anak SMP yang CUPU tapi TERKENAL :B mahakarya ini hasil jeri
payah demi melaksanakan tugas DRAMA dari Bu ESANA yang superduper cantik *gw
akuin sebagai wanita, ibu itu cantik geh*
Buat adek-adek kelas yang merasa perlu akan naskah drama ini, boleh di-copy
asal JANGAN DICIPLAK! Tuhan melihat, mendengar dan mengetahui semuanya. Cerita
ini sudah saya titipkan ke yang berkuasa agar dia menjaganya, mengawasinya! Yang
nyiplak, ASTAGFIRULLAH.....
ATTENTION!
- NO FOR
KIDS!
- Ceritanya
sedikit berbau sinetron
- Kalo endingnya
krik, jangan salahin gw! Salahin yang buat *hmmmmmmm*
- SELAMAT MEMBACAAAAAAA!
MY BEST
FRIEND FOREVER!
Mama : (sambil mengetuk pintu) ” Roy ! bangun roy ! Udah siang nih. Ntar telat, mama gak mau nganter kamu. Mama bentar lagi mau pergi arisan..”
Roy : ”Iya Ma! Nih juga Roy bangun...” (teriak Roy dari dalam kamar)
Mama : ”Jangan lupa makan yah Roy ! Cepetan yah..”
Roy : ”Iya Ma !”
(Di ruang makan.)
Mama : ”Ada apa Roy kok tumben lama bangunnya hari ini? Ada apa sih??” (sambil menyiapan piring)
Roy : ”Gini, Ma! Semalem Roy gak bisa tidur. Handpone Roy ini bermasalah. Roy gak tahu kenapa..” (sambil duduk di kursi makan)
Mama : ”Rusak ?”
Roy : ”Menurut Mama? Rusak gak?”
Mama : ”Menurut mama sih iya.”
Roy : ”Ya sudah..”
Mama : ”Mau mama beliin handphone baru gak? Mau yang mano? Tinggal sebut merek aja..” (sambil duduk di kursi makan)
Roy : ”Hmmm…Gak usah yang mahal-mahal, Ma. Blackberry udah cukup.”
Mama : ”Mau Blackberry?? Yang tipe apa?”
Mama : ”OK deh. Nanti Mama beliin habis mama arisan. Mungkin siang nanti handponenya udah ada.”
Riy : ”Trims Ma. Makanannya mana ma?”
Mama : ”Lagi dimasak bibi, Roy..”
Roy : “Yasudah. Ma, Roy pergi dulu ya. Assalamu’alaikum..” (bergegas meninggalkan ruang makan)
Mama : “Wa’alaikum salam, bawa mobil yang Civic yah nak. Mama mau bawa yang CRV..”
Roy : “Okeee...”
Roy pun pergi ke kampus. Jarak antara kampus dan rumah cukup jauh. Perjalanannya membutuhkan waktu sekitar 20 menit apabila tidak macet. Tapi jika macet, bisa memakan waktu 30 menit. Setiba di kampus, ia langsung menuju ke kantin untuk menemui sobatnya, Mahmud.
Roy : ”Oi mamen !” (mendatangi Mahmud yang sedang makan)
Mhm : ”Oi bro ! Naik apa lo kesini? Naik bemo ? Mobil lo kan di bengkel?”
Roy : ”Mobilku udah bener kok..” (duduk di sebelah Mahmud)
Mhm : “O, bagus deh kalo gitu. Udah makan lo?”
Roy : “Suda.. Kenapa? Mau nraktir”
Mhm : “Gak, gua lagi gak ada uang. Hehe…”
Roy : “Huuuu..” (sambil melihat jam) “Mud, udah jam 8, gua duluan ya, ada kelas..”
Mhm : “Sip, nanti gua SMS yah..”
Roy : “Gak bisa ! Hp gua rusak..”
Mhm : “Nah lho, terus??”
Roy : “Ntar siang udah ada lagi kok. Hahahaha”
Mhm : “Okedeh kalo gitu. Daaaaaaaaaa..”
Akhirnya, Roy pun menuju ke kelas. Sedangkan Mahmud, masih berada di kantin. Dia masih melahap makanan dan minuman yang ada di hadapannya.
Mhm : ”Rejeki numpluk !!!” (Mahmud bicara pada diri sendiri sambil tertawa dan tanpa sadar dia jatuh dari kursi)
Kelas pun berakhir sebelum jam makan siang. Setelah kuliah, Roy sedang tidak ingin menemui Mahmud. Pikirannya tertuju pada handphone yang akan dibelikan mamanya. Oleh karena itu, ia langsung pulang ke rumah. Padahal dari tadi Mahmud yelah menunggunya di kantin. Akhirnya, Mahmud pulang ke rumah dengan muka kusut.
Sesampai di rumah, Roy menemui mamanya yang sedang menyulam. Ia pun menagih janji mamanya yang akan membelikan dia handpone baru.
Roy : ”Assalamu’alaikum! Mama, ooh Mama..”
Mama : ”Wa’alaiku salam. Zudah pulang, Roy?”
Roy : ”Sudah, Ma. Lagi apa, Ma? Kayaknya sibuk banget..” (duduk di samping mamanya)
Mama : “Lagi buat sulaman. Tadi mama liat temen mama buat sulaman, jadi mama kepingin juga.”.(sambil menyulam) “udah makan belom? Kalo belom, tuh Mbok Pin masak pindang kesenengan Roy..”
Roy : ”Iya, Ma, ntar! Ma, gimana HP Roy ? Udah dibeli yang baru belom, Ma??”
Mama : ”Sudah Roy, ambil aja di kamar Mama. Ambil di atas meja ya..”
Roy : ”Oke, Ma !!” (dengan muka riang, menuju kamar mamanya dan mengambil HP barunya)
Roy pun mengambil handphone barunya. Terlihat dari wajahnya, Roy sangat senang memiliki handphone Blackberry yang sedang populer di kalangan remaja. Ia pun langsung memanfaatkan fitur-fitur yang ada.
Keesokan harinya, Roy bertemu dengan Mahmud yang sedang menunggu di depan kelas Roy. Ia meminta
Mhm : ”Oi, Roy !”
Mhm : ”Mau nemenin gua ke Mall gak?? Mau beli kado..” (merayu
Mhm : “HP apa? Liat dong..” (mengambil dan melihat-lihat HP Roy)
Mhm : “Lancar nih pedekate sama Siti??” (menyerahkan lagi ke Roy)
Roy : “Gigi lo bau menyan. Orang cupu kayak gitu!”
Mhm : ”Yasudah, let’s go to the mall!”
Mereka berdua pergi ke mall. Sesampai di mall, mereka langsung mencari kado.
Roy : “Mau mesen apa lu? Eh, bayar sendiri ya..” (sambil duduk di kursi)
Mhm : ”Nah, gua itu mau nraktir lo, Roy! ”
Roy : ”Okeee ! Gua pesen nasi goreng sama es campur.”
Mhm : ”Sippp.Pelayan !”
Roy : “Eh, gua ke WC dulu yah, kebelet nih!” (tanpa sadar ia meletakkan HPnya di atas meja dan bergegas ke WC)
Mhm : ”Sip..”
Mahmud pun melihat handphone Roy di atas meja. Saat Roy telah menjauh dari restoran, Mahmud mengambil HP Roy, mematikan HP Roy, dan menyimpannya di dalam tasnya. Lalu bersikap seperti biasa.
Setelah dari WC, Roy pun datang. Ia belum menyadari HPnya hilang. Setelah makanannya habis dan sudah dibayar, ia baru menyadari HPnya hilang. Roy cemas dan mencari-cari HPnya.
Roy : “Mana HP gua ya?” (dengan muka cemas)
Mhm : ”Wah, gua gak tahu tuh. Emang lo taruh mana tadi??”
Roy : ”Aku juga lupa..”
Mhm : ”Nah, lho. Coba lo cari dulu..”
Mhm : ”Nih..” (memberikan HPnya ke
Mhm : “Hmm.. Mungkin jatuh waktu lo ke WC tadi..”
Mhm : ”OK”
Di rumah, Siti sedang berada di rumah Roy untuk mengantar pesanan mamanya. Siti pun bercakap-cakap dengan Ibu Rofifah. Tiba-tiba Roy datang dengan muka kusut dan memberi tahu kepada ibunya bahwa HPnya hilang.
Mama : ”Iya Siti, gimana kabar mama?? Udah lama nggak maen ke sini..” (duduk di ruang tamu)
Siti : ”Mama baik, Tan. Mama lagi sibuk ngurusin papa. Papa kan mau pindah ke Papua. Jadi ya gitu deh Tan..”
Mama : ”Hah? Pindah? Siti juga ikut pindah??”
Siti : ”Nggak Tan. Hahhahaha”
(Roy pun datang...)
Roy : “Mama !!”
Mama : “Eh ada Roy! Nak, sini nak, ada Siti nih..”
Roy : “Ma, HP Roy hilang!”
Mama : ”Nah, Roy! Suka gak hati-hati sih. Kalo gitu, lain kali Roy beli HP sendiri aja. Mam gak mau lagi beliinnya.”
Roy : ”Yah, Mama...”
Siti : ”Laen kali hati-hati makanya.”
Roy : ”Iye, bego’!”
Roy pun masuk ke kamar. Sedangkan Siti pulang. Suasana rumah pun sepi.
Keesokan harinya, Ibu Rofifah pergi ke kampus untuk meminta keterangan dan meminta agar keamanan di kampus ditingkatkan. Di Kampus, Ibu Rofifah bertemu dengan salah satu dosen.
IR : “Permisi pak!” (mengetuk pintu ruangan)
Dosen : ”Eh, Bu Rofifah. Tumben datang ke kampus. Ada apa, Bu?” (menghampiri Bu Rofifah)
IR : ”Gini, Pak, saya mau nanya soal anak saya..”
Dosen : ”Oh, si Roy. Masuk dulu, Bu! Duduk di sini.” (mempersilahkan Bu Rofifah duduk)
IR : (sambil duduk) ”Makasih, Pak! Gini loh, kemarin itu HP anak saya hilang. Apa hilangnya di kampus?”
Dosen : “Wah, saya lupa. Kalau tidak salah tidak ada kejadian HP hilang Bu di kampus ini.” (menggaruk-garuk kepala)
IR : “Oh, tidak ada ya.. Ya sudah tak apalah..”
Dosen : “Kapan tadi HP nya hilang??”
IR : “Kemarin, Pak. Oh ya Pak, gimana kampus kita?? Ada masalah?”
Dosen : “Oh, untuk bulan ini belum ada,Bu.”
IR : “Baguslah, tapi saya menyarankan agar keamanannya terus ditingkatkan ya Pak! Ini semua demi keselamatan dan kenyamanan siswa didik kita.”
Dosen : “Iya, Bu..”
IR : “Baik, saya pamit pulang dulu ya Pak, ada urusan.” (sambil berdiri)
Dosen : “Oh, iya Bu, monggo..” (sambil berdiri juga)
IR : “Assalamu’alaikum”
Dosen : “Wa’alaikum salam, hati-hati di jalan Bu..”
Ibu Rofifah pun pergi menuju tempat kerja.
Di sisi lain, Mahmud sedang duduk di sisi kampus. Sambil duduk, ia menelpon temannya yang tinggal di luar kota. Mahmud memang banyak memiliki teman yang tinggal di luar kota. Ia bercerita tentang kegiatannya selama seminggu. Termasuk yang mengambil HP Roy. Saat ia sedang menelpon, Siti tidak sengaja mendengar pembicaraan Mahmud.
............................................
Mhm : “Iya, eh, gue ada HP baru loh..”
Mhm : “Ah, lo, kayak gak tau aja!”
Mhm : “Beneran BB lagi. Mana itu HP baru lagi!”
Mhm : “Lo tau temen gue yang Roy itu kan?? Yang sering gue ceritakan.”
Mhm : “Nah, iya.. itu tuh HP dia. Hahahhaha.”
Mhm : “Iyalah, dia aja kayak orang oon!”
Mhm : “hahahahhahah. Iya, eh udah dulu ya, gue ada kelas nih. Da” (menutup telpon)
Siti yang mendengar semua pembicaraan Mahmud, langsung ingin memberi tahu Roy. Ia menelpon Roy, tapi tidak diangkat. Akhirnya ia memutuskan memberi tahu Roy secara langsung besok.
Keesokan harinya, ia menemui Roy. Siti menceritakan semuanya kepada Roy. Saat mereka sedang bertengkar, seorang dosen melihat dan meleraikan mereka.
Siti : “Roy!” (menghampiri Roy)
Roy : “Kenape??”
Siti : “Ada yang mau aku omongin..”
Roy : “Apa?? Dimana??”
Siti : “Di kantin aja yah ..”
(di kantin...)
Roy : “Mau bilang apa lu?” (sambil duduk)
Siti : “HP kamuu..”
Siti : “Tau siapa yang ngambil??”
Siti : “Aku tau siapa..”
Roy : “Siapa??” (dengan rasa penasaran)
Siti : “Mahmud.”
Roy : (sambil memukul meja) “Apa? Gak usa fitnah deh, ini udah 2010 bego’ !..”
Siti : “Beneran! Aku kemaren denger dia nelpon temennya. Terus, dia cerita kalo dia ngambil HP kamu. HP kamu BB kan??”
Roy : “Iya, tapi gak mungkin Mahmud! lu tu gak tahu alur ceritanya!”
Siti : “Aku denger kemaren! Terserah kamu!” (nada marah)
Roy : “Ya tapi gua gak seneng lu nuduh si Mahmud! Lu gak tahu apa-apa tentang Mahmud??”
(Seorang dosen datang....)
Dosen : “Apa-apaan ini??”
Roy : “Gak Pak! Ini nih! Si Siti Cupu ini! Sok tau!”
Siti : “Terserah kamu! Aku udah ngasih tau.”
Dosen : “Sudah! Sekarang, kalian pergi! Bapak gak mau kalian ribut disini.”
Roy : “Udah cupu, tukang fitnah lagi!”
Siti : “Jahat!” (berlari menjauhi kantin)
Akhirnya mereka pun pergi. Entah mereka berdua pergi kemana. Yang pasti mereka tidak saling tegur. Ternyata, Ibu Rofifah tahu kalau mereka bertengkar. Sesampai d rumah, Roy langsung diintrogasi.
Mama : “Tadi ada apa Roy di kampus??” (mendekati Roy)
Roy : “Gak ada, Ma!”
Mama : “Gak usah bohong! Mama dapet laporan! Bener kan?”
Roy : “Iya Ma! Itu tuh Ma, anak Mama itu!”
Mama : “Anak mama? Anak mama cuman Roy!”
Roy : “Si Siti cupu itu lho, Ma!”
Mama : “Siti? Kenapa dengan dia? Kamu tadi cekcok gara-gara apa?”
Roy : “Dia ngefitnah Mahmud, Ma! Katanya yang ngambil HP Roy tu si Mahmud!”
Mama : “Oh yah? Tahu dari mana dia?”
Roy : “Katanya sih denger obrolan Mahmud waktu telponan.”
Mama : “Itu sih mungkin aja. Percaya ato gak, kan Siti temen Roy dari TK. Gak mungkin dia ngejebak temen sendiri! Mama tahu siapa Siti!”
Roy : “Iya sih, tapi Roy tahu siapa Mahmud, Ma!”
Mama : “Yasudahlah, terserah Roy! Mama udah ngasih saran pokoknya!”
Roy : “Iya, Ma...”
Semenjak keributan di kantin itu, Roy tidak pernah menyapa Siti, begitu juga Siti. Sudah seminggu mereka tidak saling menegur. Roy merasa bersalah telah membentak Siti. Suatu hari, Roy sedang berjalan dari kantin menuju ke kelasnya. Dia mendengar Mahmud sedang bertelponan dengan temannya yang tidak dikenal Roy. Dari sini, Roy mengetahui jelas letak suatu kebenaran.
Mhm : “Iya, kemaren si Siti ngadu ke Roy. Nah, si Roynya malah percaya sama gue. Ya, bukan salah gue kan! Hahhaha”
Mhm : “Iya, untungnya si Roy gak percaya ya sama Siti. Kalo percaya, seret gue.”
Mhm : “See laterlah..”
(Tiba-tiba Roy menghampiri Mahmud)
Roy : “Oh, jadi gini.. Kayak gini cara lu temenan dengan gue. OK. Mulai sekarang jangan nganggep gue kawan lu lagi!” (berdiri di belakang Mahmud)
Mhm : “Kenapa Roy?? Lu gila yah?..” (sambil berdiri dari tempat duduk)
Roy : “Gila? Lu tuh yang sarap! Percuma gue percaya sama lu selama ini! Lu itu penghianat !”
Mhm : “Hey, gua gak ngerti maksud lo!”
Roy : “Well, Gua gak akan ngurusin lu lagi!” (pergi meninggalkan Mahmud)
Roy pun pergi meninggalkan Mahmud. Mahmud pun terdiam, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Walaupun Roy telah mengetahui perbuatannya, sayangnya Mahmud tidak juga mau jujur.
Akhirnya Roy langsung pergi mencari Siti. Ternyata Siti sedang di perpustakaan. Roy menemui Siti dan meminta maaf.
Roy : “Siti...” (duduk di sebelah Siti)
Siti : “Kenapa? Mau bentak-bentak lagi??” (sambil membaca buku)
Roy : “Gak. gue ke sini nak minta maaf.”
Siti : “Buat apa? Oh, jadi kamu udah tau yang sebenernya?” (sambil menutup bukunya)
Roy : “Iya. Maaf ya..”
Siti : “Baguslah, iya Roy, nggak papa.”
Siti : “Iya, da~”
Lalu Roy pulang ke rumah. Sesampai di rumah, ia menceritakan kepada mamanya yang sedang menyulam. Wajahnya terlihat sangat girang.
Roy : “Mama, ternyata bener kata si Siti itu!” (duduk di samping mamanya)
Mama : “Na, Benerkan apa kata mama!” (menghentikan pekerjaannya)
Roy : “Iya Ma, nyesel banget Roy gak percaya sama si Siti..”
Mama : “Jadi sekarang gimana? Udah minta maaf sama si Siti?”
Roy : “Sudah Ma..”
Mama : “Alhamdulillah.....”
Sampai sekarang, Mahmud belum jujur kepada Roy kalau dia yang mengambil HP Roy.
Sejak saat itu, tidak ada yang mau berkawan dengan Mahmud. Mahmud kini dijauhi oleh teman-temannya. Di sisi lain, hubungan Siti dan Roy semakin dekat. Kini, Roy telah memiliki banyak teman dan tidak sombong lagi.
The End


Tidak ada komentar:
Posting Komentar